Tampilkan postingan dengan label Pidato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidato. Tampilkan semua postingan

(Khutbah Idul Adha) Pendidikan Model Ibrahim a.s.

Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu.

Ikhwani Kaum Muslimin yang Berbahagia.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas izin dan kasih sayang-Nya, kita kembali hadir di tempat ini. Rasanya baru kemarin kita berkumpul di sini merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan melawan nafsu. Hari ini kita berkumpul lagi dalam perayaan Iedul Adha sebagai simbol persatuan kaum Muslimin. Satu milyar lebih kaum muslimin saat ini sedang merajut kebersamaan dengan ikatan aqidah yang kokoh. Jarak yang jauh, suku, bangsa dan bahasa yang berbeda, kini menyatu dalam sebuah ritual besar, yaitu hari raya Iedul Adha.

Suara takbir, tahmid dan tahlil yang menggema ke angkasa sejak terbenam matahari kemarin, hingga selesainya hari tasyrik tanggal 13 dzulhijjah adalah proklamasi persatuan umat Islam sedunia. Kita menyaksikan betapa indahnya kebersamaan Kaum Muslimin mendatangi shalat ied, dan betapa kuatnya pertautan hati mereka dalam ruku’ dan sujud di hadapan sang Khaliqnya. Prosesi ini bernilai sakral dan berimplikasi nyata dalam membangun kekuatan umat Islam.
Suasana yang sama hari ini, juga dirasakan jutaan kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan niat dan tekad yang sama, mencapai haji yang mabrur. Prosesi ibadah haji ini, di samping bermakna ritual pelaksanaan rukun Islam, juga menjadi simbol persatuan umat Islam. Alhamdulillah, peserta ibadah haji terus meningkat dan tahun berikutnya sudah menunggu antrian panjang.

Semoga makna persatuan dari perayaan hari raya Idul Adha hari ini, menjadi spirit bersama dalam menyatukan potensi umat Islam. Saatnya kita sadar, bahwa Peradaban Islam yang pernah jaya selama puluhan abad, hanya bisa diulang dengan persatuan dan kebersamaan. Saatnya kita akhiri pertentangan yang menjerumuskan umat kita sendiri. Hari ini kita bangkit dan kibarkan panji persatuan Umat Islam sedunia.

Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu
Ikhwani Kaum Muslimin yang Berbahagia
Di tengah kebersamaan merayakan Iedul Adha ini, kita sejenak perlu mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim a.s. dan Siti Hajar a.s. dalam melahirkan seorang generasi teladan bernama Ismail. Keberhasilan mereka berdua dalam mendidik putranya adalah sebuah pola pendidikan yang telah terbukti melahirkan seorang generasi berpredikat nabi. Keshalehan dan keta’atan Ismail diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an dan sejarah hidupnya menjadi napak tilas pelaksanaan ibadah haji sampai hari ini.

Penyembelihan hewan qurban yang menjadi bagian dari syari’at Islam, yang insya Allah kita laksanakan setelah shalat ied ini adalah bentuk penjelmaan dari ketaqwaan Ismail kepada Tuhannya. Ismail a.s. ikhlash menerima tawaran ayahandanya untuk disembelih sebagai pembuktian cintanya kepada Allah SWT. Dia telah mampu mengalahkan keinginan nafsu dan tuntutan dunianya, karena sadar bahwa cinta dan ridhanya kepada Allah melebihi segalanya.

Untuk itu, kepada segenap umat Islam yang menyembelih hewan qurban hari ini dan tiga hari tasyrik berikutnya, berqurbanlah dengan ikhlas dengan landasan cinta dan taqwa kepada Allah SWT. hindarkan diri dari riya’ dan motivasi yang bisa merusak pahala qurban. Allah SWT berfirtman: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al Haj : 37)

Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu
Ikhwani Kaum Muslimin yang Berbahagia
Bagaimana pola Ibrahim mencetak kader berpredikat nabi itu? Al-Qur’an memberi gambaran dengan tahapan yang sitematis dan detail. Hal ini dapat kita fahami dengan penjelasan berikut:
Pertama Visi pendidikan Ibrahim adalah mencetak generasi shaleh yang menyembah hanya kepada Allah SWT. Dalam penantian panjang beliau berdo’a agar diberi generasi shaleh yang dapat melanjutkan perjuangan agama tauhid. Visi Ibrahim ini diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an: "Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." (Q.S. Ash Shaaffaat : 100)
Ibrahim sangat konsisten dengan visi ini, tidak pernah terpengaruh predikat dan titel-titel selain keshalehan. Dalam mentransfer nilai kepada anaknya, Ibrahim selalu bertanya Maata’buduuna min ba’dii bukan Maata’kuluuna min ba’dii. "Nak, apa yang kau sembah sepeninggalku?" bukan pertanyaan "Apa yang kamu makan sepeninggalku?" Ibrahim tidak terlalu khawatir akan nasib ekonomi anaknya tapi Ibrahim sangat khawatir ketika anaknya nanti menyembah tuhan selain Allah SWT.

Kedua, Misi pendidikan Ibrahim adalah mengantar Ismail dan putra-putranya mengikuti ajaran Islam secara totalitas. Keta’atan ini dimaksudkan sebagai proteksi agar tidak terkontaminasi dengan ajaran berhala yang telah mapan di sekitarnya . Allah SWT menjelaskan harapan Ibrahim dengan sebuah do’anya: "Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Q.S. Al Baqarah : 132)

Ketiga, Kurikulum pendidikan Ibrahim juga sangat lengkap. Muatannya telah menyentuh kebutuhan dasar manusia. Aspek yang dikembangkan meliputi: Tilawah untuk pencerahan intelektual, Tazkiyah untuk penguatan spiritual, Taklim untuk pengembangan keilmuan dan Hikmah sebagai panduan operasional dalam amal-amal kebajikan.
Muatan-muatan strategis pendidikan Ibrahim tersebut, Allah SWT telah jelaskan secara terperinci dalam firman-Nya: "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Al-Baqarah : 129)
Keempat Lingkungan pendidikan Ibrahim untuk putranya bersih dari virus aqidah dan akhlaq. Beliau dijauhkan dari berhala dunia, fikiran sesat, budaya jahiliyah dan prilaku sosial yang tercela. Hal ini dipilih agar fikiran dan jiwanya terhindar dari kebiasaan buruk di sekitarnya.

Selain jauh dari perilaku yang tercelah, tempat pendidikan Ismail juga dirancang menjadi satu kesatuan dengan pusat ibadah ‘Baitullah’. Hal ini dipilih agar Ismail tumbuh dalam suasana spritual, beribadah (shalat) hanya untuk Allah SWT. Kiat ini sangat strategis karena faktor lingkungan sangat berpengaruh kepada perkembangan kejiwaan anak di sekitarnya.
Pemilihan tempat (bi’ah) yang strategis untuk pendidikan Ismail secara khusus Allah SWT abadikan dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: "Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur." (Q.S. Ibrahim : 37)

Allahu Akbar 2x Walillahailhamdu
Ikhwanie Kaum Muslimin yang Berbahagia
Pendidikan Nabiullah Ibrahim memang patut dicontoh. Beliaulah satu-satunya nabi yang berhasil mengantar semua anaknya menjadi nabi. Dan dari keturunan anak cucu beliau muncul nabi akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Bagaimana dengan hasil pendidikan kita. Susah untuk membandingkannya, realitas anak didik kita hari ini sangat jauh dari hasil yang dicapai Ibrahim mendidik anak cucunya. Kita harus jujur bahwa hari ini kita mengalami degradasi moral yang parah. Para anak didik kita kehilangan orientasi dan celupan nilai. Yang terjadi adalah penetrasi budaya luar membentuk prilaku baru yang jauh dari nilai-nilai keislaman.
Kita sudah lama dan berulang-ulang mendengar dan menyaksikan betapa suramnya masa depan anak didik kita. Tapi hasil penelitian Lembaga Survei Annisa tahun 2006 (hasil yang sama dengan survei BKKBN 2002) tentang seks bebas para pelajar menjadi berita yang menyesakkan dada. Khususnya di Jawa Barat sebagai sampel, siswi SMP dan SMA yang terang-terangan mengaku melakaukan hubungan seks pranikah mencapai 45 persen. Berarti di antara 10 orang siswi kita, separuh di antaranya telah berbuat asusila tersebut.

Na’udzubillahi minzalik.
Dampak yang sangat tragis adalah terjangkitnya AIDS dan HIV pada anak didik kita. Menurut data Departemen Kesehatan RI, penderita HIV/AIDS usia 15 – 25 tahun hingga September 2007 mencapai jumlah 5587 orang, tentu yang belum terdata lebih besar jumlahnya. Penyakit yang hanya tunggu maut ini, sebagian besar terjangkit lewat hubungan seksual di luar ikatan pernikahan.

Yang tidak kalah bahayanya adalah Narkoba. barang haram ini sudah bisa ditemukan di sembarang tempat. Meski ada larangan, tapi peredarannya semakin meluas. Terakhir Lembaga Pemasyarakatan sebagai tempat rehabilitasi mental dan moral masyarakat juga ditemukan jaringan peredarannya secara gelap.
Pengguna Narkoba untuk kawula muda, pelajar dan mahasiswa juga akan terus meningkat. Lingkungan dan pola interaksi sangat memungkikan bagi mereka untuk terjaring Narkoba. Hadirnya alat komunikasi yang bisa mengakses aib dan aurat menjadi transparan, sangat berpotensi membangkitkan sakhwat dan hayali mereka. Ketika nafsu sudah berbicara, maka apa pun bisa jadi. Sebagian di antaranya akhirnya memilih penyaluran lewat jalur Narkoba.

Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu
Ikhwani Kaum Muslimin yang Berbahagia
Tidak ada kata terlambat, sekarang kita harus bangkit menyelamatkan mereka. Hal paling perioritas dari nilai-nilai pendidikan Ibrahim yang harus menjadi pola hari ini adalah bi’ah atau penciptaan lingkungan yang mendidik. Lingkungan pendidikan harus bebas dari virus aqidah dan akhlaq. Perlu suaka generasi (kawasan steril) buat perkembangan dan pertumbuhan setiap anak.

Para orang tua dan pengelola pendidikan hari ini harus mencontoh keberanian Ibrahim dan Siti Hajar dalam mengamankan Ismail jauh dari lingkungan buruk. Harus ada benteng yang kuat untuk mengamankan anak kita dari pengaruh narkoba, judi, seks bebas dan kekerasan. Melepas anak berada dalam lingkungan yang buruk seperti ini, berarti kita telah menghancurkan masa depan mereka.
Desain pendidikan memang harus jauh dari segala keburukan. Lingkungan yang buruk sangat berpotensi merusak akhlaq dan kepribadian anak. Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu agar menghidari setiap orang atau lingkungan yang bisa berpengaruh negatif terhadap jiwa kita. Sebagaimana sabda beliau:
Iyyaaka waqariinassu’ fainnaka bihi tu’rafu "Hindari olehmu bergaul dengan orang jahat karena kamu akan dikenal dengan kejahatannya" (Al-hadits)

Ada kesalahan kita dalam menilai keberhasilan anak-anak kita. Terkadang kita sangat bangga ketika anak kita meraih juara olimpiade sains atau menjadi siswa teladan dalam prestasi akademik. Namun kita jarang menghubungkan prestasi mereka dengan akhlaq dan kepribadiannya. Maka menjadi lumrah kita dapatkan, anak-anak cerdas secara intlektual dan skill tinggi tapi ibadah, akhlaq dan kepribadiannya sangat memprihatinkan.
Anak didik kita hari ini adalah pemimpin bangsa di masa datang. Di pundak mereka terpikul nasib bangsa ini. Kalau mereka baik maka selamatlah bangsa ini, tapi kalau mereka rusak maka bangsa ini tinggal menunggu kehancurannya. Untuk itu, sekali lagi mari kita antar mereka menjadi generasi shaleh, yaitu generasi yang beriman, cerdas dan berakhlaq mulia. Integritas seperti inilah yang dimiliki Ismail a.s. sehingga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Allah SWT dan menjadi warisan sejarah generasi berikutnya.

Di akhir khutbah ini, dengan penuh khusyu’ dan tadarru, kita berdo’a kepada Allah SWT semoga perjalanan hidup kita senantiasa terhindar dari segala keburukan yang menjerumuskan umat Islam. Semoga dengan do’a ini pula, kiranya Allah SWT berkenan menyatukan kita dalam kebenaran agama-Nya dan memberi kekuatan untuk memenangkannya. Amin Ya Robbal 'Alamin

Sumber : http://seuntaikenangan.blogspot.com
Cophyright © Goblog_www.enakza.co.cc™

Teks Khutbah Idul Adha oleh Ustadz Daud Rasyid

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون . لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده . لا إله إلا الله والله أكبر . الله أكبر ولله الحمد .
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.

اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه أمهات المؤمنين وأصحابه الأخيار رضوان الله عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلوكه واتبع سنته إلى يوم الدين . أما بعد أيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل.

Ma’asyiral Muslimin Rohimakumullah

Pada pagi ini kita berkumpul melantunkan Takbir membesarkan Allah Swt, MemujiNya, Bertasbih kepadaNya. Tiada yang layak dipuji kecuali hanya Dia, Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan, Dia yang memberi rezeki. Saudara-saudara kita pagi ini berangkat menuju Mina untuk melempar Jamratul ‘Aqabah. Semalam mereka bermalam di Muzdalifah. Kemarin mereka seharian penuh berwuquf di ‘Arafah, menadahkan tangan kepada Robb memohon ampunnya, membukakan pintu rahmatnya. Kita yang berada di tanah air, diganti Allah dengan puasa ‘Arafah tanggal 9 Zulhijjah yang Fadhilahnya dapat menghapuskan dosa tahun kemarin dan dosa pada tahun ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Bukan suatu hal kebetulan Allah Swt menetapkan kewajiban Haji kepada ummat Muhammad Shallahu alaihi Wasallam walau sekali dalam seumur hidup. Haji adalah Ibadah yang mengandung makna penghambaan yang luar biasa kepada Allah Subhanah. Sementara Hakikat kehidupan ini adalah penghambaan itu sendiri. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Mawla Azza Wajalla :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

(Tidaklah Kuciptakan Jin dan Manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaKu). (Surat az-Zariyaat: 56) Bahkan setiap praktik Ibadah Manasik Haji itu mengandung makna penghambaan. Ketika seseorang thawaf, Sa’i, wuquf, Mabit, melempar Jamroh, semua kegiatan itu merupakan wujud penghambaan manusia kepada al-Ma’bud Subhanahu. Hal ini sering dilupakan umat Islam termasuk mereka yang melaksanakan Haji. Mereka umumnya melakukan manasik itu begitu saja tanpa disertai penghayatan atas penghambaan kepada Allah Azza wajalla. Bahkan tak sedikit mereka yang melaluinya sebagai formalitas belaka, tanpa mendalami dan merasakan manisnya berhaji. Seorang yang memulai rangkaian Ibadah Manasik, memulainya dengan Ihram dan membaca lafazh Talbiyah. Kalau kita perhatikan ucapan Talbiyah itu, isinya semua berupa penghambaan kepadaNya.

لبيك اللهم لبيك . لبيك لا شريك لك لبيك . إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

“Aku datang memenuhi panggilanMu, Ya Allah. Aku datang memenuhi PanggilanMu. Tiada Sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan hanya milikmu, dan juga kerajaan. Tiada Sekutu bagiMu.”

Betapa jelasnya ikrar/pengakuan akan penghambaan itu keluar dari mulut orang yang berihram haji dan umroh. Pengakuan bahwa kedatangannya dari negeri jauh, melintas samudera dan benua, hanyalah memenuhi panggilan Allah semata. Pengakuan bahwa Allah itu hanya Satu, tidak ada sekutu bagiNya. Inilah esensi Tawhid. Pengakuan bahwa pujian hanya pantas untuk Allah. Karenanya pujian-pujian berlebihan tak pantas diberikan kepada manusia, apalagi manusianya pernah memusuhi Allah, memperjuangkan bukan hukum Allah. Pengakuan bahwa nikmat adalah kepunyaan Allah semata. Kita sebagai manusia, hanya diberi amanah secuil dari nikmat itu untuk dirasakan oleh sebagian kita, dan sekaligus menjadi ujian. Karenanya kita harus banyak mensyukurinya dan tidak mabuk dalam nikmat itu. Jika Allah berkehendak, nikmat itu dicabutNya, kita suka atau tidak suka. Pengakuan bahwa kerajaan adalah milik Allah Azza Wajalla. Kekuasaan yang diberikanNya kepada sebagian manusia, hanyalah sedikit dan bersifat sementara. Kita hanyalah hamba yang tidak memiliki apapun dan tak berkuasa sedikitpun. Segala-segalanya hanya milik Allah dan tunduk pada kekuasaanNya. Pengakuan sekali lagi bahwa Allah tidak bersekutu dengan sesuatu makhluq apapun. Dia satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak menerima penyembahan dari makhluq. Begitulah isi dan makna Talbiyah.

Ikrar yang begitu tegas dan diteriakkan berkali-kali sepanjang hari Arafah, malam hari di muzdalifah, hingga sampai di Mina pada pagi 10 zulhijjah, seharusnya meninggalkan bekas pada diri kaum Muslimin. Kalau kita renungkan haji, ia sungguh merupakan wisata ruhany yang kental dengan muatan ‘aqidah. Ketika wukuf di Arafah, diharuskan memperbanyak zikir kepada Allah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tak bermanfaat, seperti berfoto ria, jalan ke sana kemari, mencari teman, mengunjungi handai tolan, seperti kebiasaan banyak jemaah haji kita. Bukan seperti itu. Arafah diisi dengan penghayatan, pematangan Aqidah, membulatkan penghambaan diri kepada Al’Aziz al-Jabbar. Bila haji dilaksanakan dengan pola seperti ini, ia akan melahirkan sosok manusia baru dengan akidah yang tangguh. Komitmen kepada Islam yang sangat tinggi. Kecintaan kepda ALLAH yang mengalahkan segala-galanya. Siapapun yang kembali dari mengerjakan haji akan berubah. Bukankah yang pergi haji itu banyak petinggi negara, pejabat pemerintah, politisi wakil rakyat, pebisnis, disamping rakyat biasa. Apa pengaruh haji pada kehidupan mereka?

Seharusnya mereka itu menampakkan perubahan drastis, karena aqidah sudah terbina. Penyelewengan jabatan, praktik korupsi, memperkaya diri, curang dan menipu, seharusnya sudah berhenti total. Ya, kita bisa terima, sebelum haji mereka banyak melakukan perbuatan-perbuatan di atas, tetapi setelah menjalani pelatihan super intensive, materi super canggih, prilaku-prilaku mereka harus berubah total, sekembalinya dari haji. Seharusnya lahir pejabat Negara, politisi, dan aparat pemerintahan yang bersih, soleh, takut menyalah gunakan uang rakyat, bahkan lahirlah politisi dan negarawan yang wala’ (loyalitas/keberpihakan)nya kepada hukum Allah. Partai/ormas boleh beda tetapi akidah harus sama, berwala’ kepada Allah dan bertahkim kepada Syari’at Allah Swt.

أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون

“Apakah Hukum Jahiliyah yang lebih mereka sukai. Dan hukum siapa yang lebih baik dari hukum buatan Allah, bagi kaum yang yakin.” (Al-Ma’idah:50)

Tidak ada tempat bagi sekularisme, Pluralisme, dan demokrasi ala kuffar. Karena apa saja yang kita butuhkan dalam mengatur Negara, ada konsep dan teorinya di dalam Syari’at Allah yang agung itu. Betapa tidak, Zat Yang Maha Mengetahui akan melahirkan konsep yang maha canggih.

ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير

“Ketahuilah. Yang mengetahui adalah yang mencipyakan. Dan Dia Maha lembut dan Maha Mengetahui.” (Surat al-Mulk: 14)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.

Apa yang menimpa ekonomi Amerika akhir-akhir ini, berupa hancurnya dunia usaha, yang berawal dari credit crunch dalam bisnis perumahan di Amerika, salah satu pertanda kuat kehancuran sistem ekonomi Kapitalis. Sistem Ekonomi yang berlandaskan pada Riba, uang melahirkan uang, bisnis yang menggelembungkan angka-angka padahal tidak sesuai dengan nilai riilnya, akhirnya sampai pada angka yang tak terbayang dalam otak pebisnis $600,000,000,000,000. (enam ratus trilyun Dollar US). Maka dari kasus hancurnya dunia finance di AS, dan negara-negara yang berkiblat kepadanya, apakah manusia tidak juga mau belajar bahwa sistem yang diciptakan oleh manusia untuk menandingi sistem yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, pada gilirannya akan berujung pada kehancuran, malapetaka dan kesengsaraan. Syari’at Islam mengajarkan bahwa riba adalah haram dan jual beli itu halal. Firman Allah: أحل الله البيع وحرم الربا. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Jual beli harus memperlihatkan wujud barang yang dijual dan harga yang masuk akal atas barang. Bukan seperti membeli kucing dalam karung. Riba lah yang menghancurkan perekonomian Kapitalis, sebagaimana telah hancur sebelumnya sistem sosialis di Eropa Timur. Allah Swt ingin memperlihatkan kepada manusia, bahwa sistem yang mereka bangun bertentangan dengan sistem yang diturunkanNya, cepat atau lambat akan hancur sekuat apapun tiang penyangga sistem itu. Allah juga ingin memperlihatkan bahwa kesombongan dan keangkuhan hanya berakhir dengan kehancuran. Kesombongan dan arogansi yang dipertontonkan oleh AS di dunia Islam, wabil Khusus di Afghanistan, Iraq, Somalia, Sudan dan lainnya tidak luput dari perhitungan Allah Tabaraka wata’ala. Berapa nyawa bangsa Afghanistan yang hilang tanpa alasan? Berapa nyawa bangsa Irak dan kekayaaan negeri itu yang musnah akibat kekejaman Negara yang sombong itu? Semuanya tercatat dalam perhitungan Allah ‘Azza wa Jalla. Krisis financial Amerika adalah mukaddimah kehancuran Negara besar itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamu. Problem manusia sebenarnya adalah problem ‘aqidah. Mayoritas manusia tidak menuhankan Allah Azza wajalla. Mereka mengambil Tuhan selain Allah. Ada yang menuhankan manusia dan leluhur. Ada pula yang menuhankan benda dan hawa nafsu, seperti roh, seks, akal, teknologi, uang, jabatan, popularitas, dan sebagainya. Firman Allah Tabaraka wata’ala:

أفرأيت من اتخذ إلاهه هواه وأضله الله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون.

“Apakah tidak engkau ketahui orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah sesatkan dia dengan sadar, dan Allah mencap pendengarannya dan hatinya. Dan Ia jadikan penglihatannya menjadi tertutup, maka siapakah yang menunjukinya selain Allah? Apakah kamu tidak berfikir?” (al-Jatsiyah 23).

Sebagian mereka ada yang sudah menjadi Muslim tetapi tidak menyerahkan wala’ (loyalitas)nya kepada Allah. Mulut mereka mengucapkan La Ilaaha illallah, namun hati mereka dan praktik hidupnya jauh dari makna Laa Ilaaha illallah itu. Penyebabnya karena merekapun tidak paham hakikat makna Syahadat itu. Konsekuensi Syahadat adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah Swt. Bukan hanya tunduk dalam soal Ibadah ritual dan aturan-aturan yang menyangkut dien (agama) saja. Tetapi kepatuhan total dan ketundukan mutlak kepada Allah Swt. Para Ulama Tawhid menjelaskan maknanya adalah : لا معبود بحق إلا الله“Tidak ada yang disembah dengan sah selain dari Allah”. Jadi hawa nafsu, manusia, nenek moyang, teknologi, kecantikan, seni, ideologi, faham, benda, roh, apapun selain Allah tidak boleh diTuhankan, disembah, dikultuskan, didewa-dewakan, dianggap sakti, dan seterusnya.

Dalam kenyataan sebagian umat Islam masih terjerumus dalam menuhankan faham/ideologi yang dibuat oleh umat di luar mereka, seperti sekularisme, nasionalisme, materialisme, demokrasi, liberalisme, humanisme, feminisme, dan isme-isme lain. Berarti mereka belum menuhankan Allah dalam arti yang sesungguhnya, karena Allah tidak menerima falsafah-falsafah yang dibuat oleh manusia, lalu dianut sebagai kebenaran, selain apa yang diturunkan oleh Allah, yakni al-Islam. Mereka mengekor begitu saja kepada umat di luar mereka yang tidak memiliki petunjuk hidup. Sungguh ironi, kaum yang memiliki petunjuk hidup (hidayah) mengekor kepada kaum yang sesat. Seharusnya, kaum yang sesat mengikuti kaum yang mendapat petunjuk, agar mereka ikut selamat. Umat Islam di dunia ini rata-rata hidupnya mengekor kepada umat lain. Mereka menjadi pengekor setia kaum di luar mereka, di semua bidang dan sektor; mulai dari ideologi, faham, hobbi, idola, model, brand, trend, gaya, penilaian, dan yang lainnya. Umat Islam tidak hanya menjadi pasar produk teknologi saja, tetapi juga sudah menjadi pasar bagi produk ideologi dan faham kaum kuffar. Faham apa saja yang muncul di barat, akan didapatkan pengikutnya di tengah kaum Muslimin. Ini mengingatkan kita benarnya prediksi Nabi Saw empat belas abad silam yang mengatakan :

(لتتبعن أمما قبلكم شبرا بشبر ذراعا بذراع حتى إذا دخلوا جحر ضب لدخلتموه).

“Kalian akan mengikuti ummat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamupun ikuti mereka.”

Dalam soal penilaianpun, umat islam mengekor dan berkiblat kepada Barat kaum Kuffar. Apa saja yang dianggap buruk oleh kuffar, juga dianggap buruk oleh ummat Islam. Sebaliknya apa yang dianggap mereka sebagai kewajaran dan baik, juga dianggap wajar dan baik oleh ummat Islam. Akhir-akhir ini banyak isu dilemparkan oleh musuh-musuh Islam melalui media massa dan disambut oleh ummat ini dengan sikap membeo dan mengekor, seperti murid dengan gurunya. Barat melemparkan isu terorisme dan menuduhkan perbuatan terorisme kepada Islam dan ummatnya, maka umat Islampun ikut-ikutan seperti beo. Ada Orang yang dituduh oleh Barat sebagai teroris, kitapun ikut-ikutan menuduhnya teroris. Padahal mereka itulah induknya teroris. Israel dan Amerika itulah yang membuat kerusuhan dahsyat di muka bumi ini. Mereka lah yang menjadi kaum perusak nomor wahid di dunia ini. Tapi, dia bisa mengalihkan opini dunia, kerusuhan dahsyat yang dia buat menjadi tidak kelihatan/hilang, sementara orang Muslim yang soleh yang difitnahnya sebagai pembuat kerusuhan, dihukum oleh public secara zalim. Umat islam sekali lagi membeo kepada mereka. Pornografi, homoseks, dan penyimpangan seksual yang bejat, kotor, dan bertentangan dengan fitrah manusia, baik Muslim atau non Muslim, menjadi indah dan wajar dalam pandangan mereka. Sebagian Ummat Islam pun ikut-ikutan menilai yang bejat itu menjadi wajar. Ajaran yang dianggap sesat di dalam islam, mereka anggap Hak Azasi Manusia dan merupakan kebebasan untuk meyakini ajaran apa saja. Na’uzu Billah min zalik.

Jika Barat menganggap poligami itu buruk dan aib, di mana seorang lelaki mempunyai isteri yang sah lebih dari satu, maka umat Islampun ikut-ikutan menilai poligami itu buruk dan penindasan terhadap perempuan. Bahkan meng”hukum” orang yang melakukannya. Tapi, jika seorang lelaki atau perempuan berganti-ganti pasangan tanpa nikah, melakukan hubungan zina dengan siapa saja yang dia sukai, mereka anggap wajar dan kebebasan sebagai manusia. Beginilah nasib ummat Islam sekarang. Menilai sesuatu dengan mengikuti standar penilaian kaum Kuffar. Menikahi anak belasan tahun dianggap oleh Barat sebagai pelecehan terhadap anak, maka ummat Islampun ikut mencelanya. Sementara anak-anak jalanan belasan tahun yang melakukan hubungan seks, tidak pernah diributkan oleh media. Di Barat, anak umur 14 tahun sudah diajari gurunya di sekolah cara berhubungan badan yang ‘aman’. Dan anak-anak sekolah mempraktikkannya dengan teman-temannya. Itu tidak dianggap tabu, karena tidak menikah. Jika menikah dengan sah, akan menjadi aib dan malu.

Lalu pertanyaannya sampai kapan kita sebagai pengekor? Apakah tidak tiba saatnya, ummat Islam ini hidup dewasa, merdeka, mandiri dengan kebijakan sendiri, tidak bergantung kepada bangsa lain manapun. Padahal mereka mempunyai ‘aqidah. Mereka memiliki kitab suci sebagai petunjuk. Mereka mempunyai sunnah Nabinya Saw yang dijadikan pedoman dalam memahami jalan yang benar. Kapankah saatnya, ummat Islam kembali kepada kesadarannya untuk menjalankan hukum Agamanya untuk mengatur dunia dan akhiratnya? Sadarkah mereka bahwa solusi tidak pernah datang dari luar mereka, melainkan dari dalam mereka sendiri? Marilah kita berdoa kepada Allah Swt agar ummat ini diberiNya petunjuk dan Hidayah untuk menapaki jalanNya yang lurus, jalan orang-orang yang beriman. Amiin.

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه ، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم إنا نسالك الهدى والتقى والعفاف والغنى. اللهم ارفع مقتك وغضبك عنا . اللهم لا تدع في مقامنا هذا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من جوائج الدنيا إلا قضيتها ويسرتها يا رب العالمين. اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين ودمر أعداءك أعداء الدين.


Sumber : http://www.eramuslim.com/
Cophyright © Goblog_www.enakza.co.cc™

KHUTBAH NIKMAT IMAN DAN ISLAM

Assalaamu'alaikum wr wb

Alhamdulillaah.
Alhamdulillaahilladzi arsala rasuulahu bil huda wa diinilhaq liyudlhirahu ‘aladdiini kullih walau karihal kaafiruun.

Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuuluh, laa nabiyya ba’dah.

Qalallaahu ta’ala fil-quraanilkariim:

‘A’uudzubillaahiminasy-syaithaanirrajiim,
bismillaahirrahmaanirrahiim

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’aalaa sebagaimana telah diperintahkan kepada kita melalui firman-Nya tadi, yang artinya:

“Wahai orang-oramg yang telah beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.”

Dan firman Allah yang lain,

Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum.

Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.”


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Sudah seharusnya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’aalaa yang telah banyak memberi ni’mat kepada kita semua, terutama ni’mat Iman dan Islam. Sehingga kita disebut sebagai orang-orang yang beriman atau mukmin, juga disebut sebagai orang-orang beragama Islam atau muslim.

Kita tahu, bahwa ni’mat Iman dan Islam adalah ni’mat yang sangat besar. Yang tidak setiap orang dapat memperolehnya. Namun sungguh memprihatinkan, bahwa ada di antara manusia yang dengan sengaja telah menolak ni’mat ini. Mereka diberi petunjuk untuk beriman kepada Allah dan menerima Islam sebagai agama bagi mereka, namun mereka kufur. Sehingga dalam terminologi Islam mereka disebut dengan orang-orang kafir, baik kafir ahli kitab, musyirikin, munafiqin, deis maupun atheis. Mereka telah melakukan kejahatan kemanusiaan yang sangat besar, yaitu kejahatan teologis.

Sungguh merugi orang-orang yang mengingkari kebenaran Islam setelah informasi / da’wah itu sampai kepadanya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq dan akan menerima adzab di akhirat kelak.

Firman Allah:
“Innaddiina kafaru min ahlil kitaabi wal musyrikiina fiinaari jahannama khaalidiina fiihaa; ulaaikahum syarrul bariyyah.”

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS 98:6, Al Bayyinah)


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Mungkin ada di antara manusia ada yang bertanya: Mengapa kita harus menganut Islam sebagai agama? Bukankah banyak pilihan agama di dunia ini? Atau ada yang mengatakan, bukankah semua agama itu sama saja, kan semua menyembah Tuhan?

Semua pertanyaan itu memerlukan jawaban. Dan jawaban yang terbaik adalah jawaban yang merujuk pada petunjuk dari Tuhan itu sendiri, atau yang disebut dengan kitab suci. Tentu saja, kitab suci yang dapat dijamin validitas, keasliannya dan tidak dirubah-rubah isinya. Adapun jawaban berdasarkan logika dan filsafat, tak akan pernah memuaskan; Sebab logika memiliki keterbatasannya sendiri, sedang filsafat hanya akan menghadirkan kebenaran relatif yang spekulatif adanya.


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Islam adalah agama yang diturunkan Allah bagi umat manusia melalui para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga Ibrahim, Musa, ‘Isa (Yesus), hingga Muhammad s.a.w; sedang Al-Quraan tidak diragukan lagi sebagai kitab suci yang senantiasa terjaga validitas dan keasliannya. Karena itu, kita tidak ragu untuk mempergunakannya sebagai rujukan dalam beragama maupun dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Allah Subhanahu wa ta’aalaa telah menyatakan dalam Al-Quraan, bahwa hanya Islam agama yang diakui-Nya. Jadi, Islam-lah satu-satunya agama yang benar. Atau kita dapat mengatakan, bahwa semua agama itu sesat kecuali Islam. Maka, tidaklah salah bila kita menganut Islam sebagai agama yang kita yakini.

Firman Allah:
“Innaddiina ‘indllaahil-islaam.”

Artinya:
Sesungguhnya agama (yang diridloi) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS 3:19, Ali 'Imran).

Firman Allah:
“Wamayyabtaghi ghairal islaami diinan falayyuqbala minhu, wa huwa fil aakhiraati minal khasiriin.”

Artinya:
Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS 3:85, Ali 'Imran).


o o o O o o o


Alhamdulillaah.
Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin.

Hamdan katsiiiran thayyiban mubaarakan fiih.


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Islam bermakna selamat, sejahtera, aman, damai dan bahagia; kebahagiaan dan kesejahteraan lahir-batin, jasmani-ruhani, material-spiritual dan dunia-akhirat. Islam juga berarti tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Islam adalah agama yang telah ditetapkan oleh Allah bagi seluruh umat manusia. Manusia yang mencari agama selain Islam, nanti di akhirat akan merugi, karena keberagamaannya ditolak, sebagaimana firman Allah yang telah dibacakan tadi.

Untuk itu, marilah ni’mat iman dan Islam yang telah kita peroleh ini kita jaga dengan keimaan yang mantap tanpa keraguan, dan diikuti dengan amal shalih yang berkesinambungan.

Firman Allah:
“Al-haqqu mirrabbika falaa takuunanna minal mumtariin.”

Artinya:
"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS 2:147, Al Baqarah).

Firman Allah:
“Innalaadzina aamanu wa’amilushshaalihaati ulaaikahum khairul bariyyah. Jazaauhum ‘inda rabbihim jannaatu ‘adnin tajri mintahtihal-anhaaru khaalidiina fiihaa ‘abadaa. Radliyallaahu ‘anhum wa radluu ‘anh, dzaalika liman khasyiyarabbah”

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS 98:7-8, Al Bayyinah)


Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita menengadahkan hati kita untuk berdo’a, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah dan permohonan kita.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.
Allaahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aali Muhammad.

Amin, amin, yaa Allah, yaa rabbal ‘alamiin.

Rabbana innanaa amannaa, faghfirlana dzunuubannaa, wakaffir ‘annaa sayyiaatinaa, watawaffanaa ma’al abraar, walaa tughzinaa yaumal qiyaamah.

Rabbanaa laa tuzigh qulubanaa ba’da idzhadaitanaa wa hablanaa milladunka rahmah innaka antal wahhaab.

Allaahumma aa’innaa ‘alaa dzikrika, wasyukrika, wahusnaa ‘ibaadatik.

Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah, wafil aahirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar.

Allaahumma innaa nas-aluka ridlaaka wal-jannah wana’uudzubika min tsaqatika wannaar.

Rabbanaa taqabbalminnaa, innaka antassamii’ul aliim, innaka samii’uddu’aa’, innaka antal wahhaab. Amin, yaa Allah, yaa rabbal’aalamiin.

Wal hamdulillahirabbil ‘aalamin


Sumber : http://www.immasjid.com
Cophyright © Goblog_www.enakza.co.cc™

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 

Selamat Datang

Selamat datang di The476ks - saya senang Anda berada di sini, dan berharap Anda sering datang kembali. Silakan berselancar di sini dan membaca lebih lanjut tentang artikel dunia hacking,crakking,software, news, cheat Point blank, ninja saga, dan lainnya semua ada disini. Ada banyak hal tentang kami, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik. Selengkapnya tentang kami

Sepintas Tentang Admin

Nama saya De Young Fand, saya yang membentuk blog ini yaitu the476ks yang nama lahir dari nama kota saya tinggal. Saya seorang designer, blogger, teknisi, gammer. Spesialisasi pada Blogger blogs, CSS, XHTML dan jQuery serta php Msql.

the476ks